Tidak bisa aku menjadi munafik. Tidak bisa aku menutupi rasa sakit. Semenjak kau beranjak pergi meninggalkan aku, janji, serta kenangan. Saat itu aku tidak bisa menerimanya. Aku selalu bertanya "mengapa harus seperti ini?", "mengapa kita dipertemukan hanya untuk sebuah perpisahan yang membuat sedih berkepanjangan?" , "bisakah aku melewati semua ini tanpa dirimu (lagi)?"
Aku sudah biasa kehilangan dirimu sejak saat itu. Bagiku sudah biasa merasa kehilangan dan pada akhirnya kau kembali lagi. Pada saat itu aku berpikir bahwa "cinta tau kemana ia harus pulang", tapi saat ini tidak! Mengapa?!! Aku pun tak tahu.
Kehilangan yang saat ini adalah benar-benar kehilangan. Memang ribuan kesulitan yang aku lewati untuk merubah 'rasa' ini. Rasa benci serta rindu yang selalu meringis-ringis seolah-olah benci tak ingin melihatmu lagi dan hanya ingin menangis di bahumu yang bidang, ingin bertanya padamu "apakah aku bisa merasakan hangatnya pelukmu lagi?" Ternyata jawabannya "Tidak bisa".
Dimana janji itu? Dimana kata-kata manismu bahwa kau akan selalu bersamaku? Tergugat semua janji-janjimu. Apa hanya sekedar janji? Menurutku tidak. Karena memang keadaanlah yang membuat janji itu hanya wacana semata.
Salahkah aku bila disela-sela waktu ku. Terkadang aku mengingatmu? Bukan mengenang dirimu. Bukan juga merindukanmu. Tapi aku hanya rindu masa-masa dimana 'kita bisa tertawa bersama'. Masa dimana aku kuat ketika hubungan kita diterpa banyak masalah yang kau buat. Caramu yang selalu menyakitiku mengajarkanku untuk menjadi wanita yang sabar serta tangguh hingga sampai sekarang ini. Semua pahit yang kau beri, aku tidak menyesalinya. Aku hanya mempelajari semua arti dari pahit yang kau beri.
Waktu pun berlalu.. tidak ada titik terang untuk menyatukan kita lagi. Untuk bersama lagi. Dan untuk kembali lagi.. walaupun beberapa kali kau mencoba menghubungiku kembali, mengajak aku berbincang lagi lewat telpon genggam, mengajakku untuk tertawa dan menerima mu lagi. Tapi nyatanya hatiku tak bisa menerimanya lagi. Luka yang kau buat sungguh terlalu dalam untukku dan keluargaku.
Sungguh dalam hati ada rasa sesal mengapa aku mengenalmu. Kau yang telah merenggut semua hak-ku. Disetiap malam hatiku merintih. Menahan beban yang aku pikul. Terkadang juga menangisi 'janjimu' yang hilang.
Hingga ada seseorang yang mulai mengisi hariku. Memberiku canda, tawa dan bahagia. Saat itu aku sudah tidak mengharapkan dirimu. "Melampiaskan rasa?" Bukan.. aku hanya mencoba membuka hati untuk yang baru, walaupun belum sepenuhnya.
Dirinya berbeda darimu. Walaupun ada beberapa yang sama dengan dirimu. Tapi aku tidak menyamakan dirimu dengan dirinya..
Aku bisa tertawa lepas. Aku bisa tidur tanpa tangisan . Aku tidak merindukanmu lagi ketika cahaya pergi digelapnya malam. Warna abu telah berganti banyaknya warna. Kini aku baru merasa betapa aku sangat di istimewakan dan diutamakan. Rasa yang tak pernah ku dapatkan darimu. Dan.. aku mulai mencintainya. Seperti mencintaimu dulu. Rasa yang semakin lama semakin dalam, rasa yang semakin lama menunjukan bahwa dia orang yang patut untuk kucintai. Bahwa dia lah orangnya yang merubahku menjadi lebih baik. Walaupun belum sepenuhnya.. dan saat ini dia lelaki yang menjagaku, melindungiku. Dia yang penuh dengan tanggung jawab. Dan hal yang tak pernah aku duga. Dia lah lelaki yang dipercaya orang tuaku. Baru kali ini orang tuaku berterimakasih kepada lelaki yang dekat denganku. Dan hatiku makin yakin. Bahwa dia lah orang yang dipilih Tuhan untukku.. semoga dia tidak seperti dirimu yang meninggalkan ku dengan janjimu. Dan tanpa aku sadari. Kini aku takut untuk kehilangan dirinya..
Cinta memang rumit. Tak ada awal dan tak ada akhir. Ada datang dan ada pergi. Ada bahagia dan ada tangis. Ada senang dan ada luka. Ada yang berjanji tak akan pergi dan ada yang pergi melupakan janji.

Comments
Post a Comment